Rabu, 12 November 2008

Catatan Akhir Muktamar

Alkisah berkumpullah 5 jawara hebat di Negeri KAMMI. Kelima jawara tersebut adalah pendekar hebat tak terkalahkan yang selama ini telah berjasa mempertahankan negeri KAMMI dari serangan musuh. Kelima jawara tersebut adalah hasil pemilihan dari daerah-daerah yang ada di kerajaan KAMMI. Akan tetapi raja sepertinya ingin memberikan penghargaan kepada pendekar terbaik dari kelima pendekar hebat yang ada. Sehingga akhirnya kelima pendekar itupun diuji kehebatannya dengan diadakan pertarungan secara terbuka.
Setelah seluruh rakyat dan penghuni istana negeri KAMMI sudah memenuhi lapangan tempat pertarungan kelima jawara terbaik negeri, maka pertarunganpun dimulai. Dan sebelumnya masing-masing pendekar diperintahkan raja untuk memperkenalkan kehebatan masing-masing.
Kesempatan pertama, tampillah Pendekar Jempol (Pendekar Ibu Jari). Dia mengatakan bahwa tidak ada yang lebih hebat darinya. Setiap kali manusia hendak memberikan ungkapan tanda kehebatan seseorang atau sebuah kejadian, maka yang diacungkan oleh tangan adalah Ibu Jari dan bukan jari yang lain. Diapun mengatakan bahwa tanpa dirinya – ibunya para jari – maka tidak akan mungkin ada jari yang lain. Tak lupa Pendekar Jempol juga memamerkan bentuk tubuhnya yang memang kelihatan lebih besar dan berisi dibandingkan jari yang lainnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Jempol, maka seluruh pendudukan negeri KAMMI-pun memberikan tepuk tangan meriah dan mengelu-elukannya sebagai pendekar hebat.
Kemudian pada kesempatan kedua, tampillah Pendekar Telunjuk. Dengan gagah berani dia menunjukkan kehebatannya. Dia mengatakan bahwa setiap pemimpin ketika memerintah bawahannya pasti menggunakan jari telunjuk dan bukan jari lainnya. Dengan acungan jari telunjuk, maka semua bawahan akan menurut. Kemanapun jari telunjuk ini mengarah, kesitulah bawahan mengikuti. Ringkasnya, dibawah kendali Pendekar Telunjuk maka semua orang akan tunduk dan menurut. Tidak ada satupun yang bisa membantahnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Telunjuk, maka kembali seluruh penonton memberikan sambutan yang riuh.
Giliran ketiga yang tidak kalah hebatnya adalah Pendekar Tengah. Seketika dia meminta kepada semua pendekar untuk berdiri, dan nyatalah bahwa Pendekar Tengah adalah pendekar tertinggi. Dan dengan jurus berdiri itulah kemudian Pendekar Tengah menjadi tak terkalahkan oleh pendekar yang lainnya. Dan seluruh penonton dibuat kagum oleh kehebatan jurus sang Pendekar Tengah yang menyambutnya dengan tepukan meriah.
Pada giliran keempat tampillah Pendekar Manis. Tak mau kalah dengan penampilan para pendekar sebelumnya, Pendekar Manispun mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dia mengatakan bahwa setiap penghargaan hebat dalam bentuk cincin maka tempatnya pasti di jari manis. Cincin kawinpun dipasang di jari manis dan bukan dijari yang lain. Alangkah lucunya kalau ditaruh di jempol. Demikian kehebatan Pendekar Manis dengan jurus cincinnya membuat arena pertarungan semakin bergemuruh, seperti belum ada tanda siapa yang bakalan menjadi pemenang.
Sehingga sampailah pada giliran terakhir yaitu Pendekar kelingking. Ketika maju ke arena – tidak seperti pendekar lain yang langsung mempertontonkan kehebatannya – Pendekar Kelingking terlihat kebingungan. Mungkin dia tidak menyangka akan kehebatan jurus-jurus dari pendekar yang lainnya. Ketika penonton sudah mulai gelisah dan kelihatan brutal, tiba-tiba .... Kalau Pendekar Jempol hebat dengan jurus jempolnya, Pendekar Telunjuk dengan jurus telunjuknya. Kemudian Pendekar Tengah dengan jurus berdirinya dan Pendekar Manis dengan jurus manisnya, maka saksikanlah jurus hebatku. Demikian kata Pendekar Kelingking.
Tiba-tiba Pendekar Kelingking masuk ke hidung sang raja dan bergerak-gerak mengorek-korek hidung sang raja. Dan ketika keluar, Pendekar Kelingking membawa benda hitam yang menempel pada tubuhnya. Dengan bangga Pendekar Kelingking mengatakan, “ Tanpa saya maka hidung sang raja akan kotor dan terus kotor sehingga pada akhirnya raja tidak bisa bernafas. Tidak ada satupun dari pendekar yang lain berani masuk ke hidung sang Raja, apalagi Pendekar Jempol”. Mendengar itu maka seluruh penonton kembali memberikan sambutan meriah. Dan sepertinya keadaan seimbang untuk kelima pendekar yang ada.
Melihat bahwa hingga penampilan terakhir tidak ada yang menang, maka rajapun memberikan satu pertandingan lagi. Dan pertandingan terakhir adalah lomba menyapu lantai. Dan setelah lomba dimulai tidak ada satupun pendekar yang turun ke arena. Mereka cuma bengong dan tidak tahu harus melakukan apa. Setelah masing-masing memikirkan jurus andalannya tetapi tidak juga ketemu, maka akhirnya para pendekar itupun sadar bahwa mereka masing-masing tidak akan mampu menyelesaikan tantangan raja. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan tantangan itu adalah dengan adanya kerjasama diantara kelima pendekar itu dan menanggalkan ego kehebatan masing-masing. Dan tantangan raja itupun terselesaikan sudah.
..............................................................
Cerita di atas adalah rekaan fiktif belaka, namun merupakan sebuah penggambaran hasil pemilihan Muktamar ke-6 kemarin. Ketua Umum terbaru merupakan hasil dari proses pemilihan sebagai salah satu bagian dari sebuah proses syuro akbar bernama Muktamar ke-6 KAMMI. Rahmantoha, Muhith Harahap, Fikri Aziz, Sri Widya Supeno, dan Syamsir Hutasoit, merupakan kelima pendekar KAMMI hasil pemilihan dari Daerah-daerah. KAMMI adalah sebuah kerajaan besar yang memang layak untuk dipimpin oleh mereka.
Kalau ditanyakan, lantas siapakah yang paling hebat ? Maka jawabannya ya jelas nggak ada yang paling hebat. Tetapi mereka akan menjadi jauh lebih hebat apabila ada sinergi yang baik diantara semua elemen jari yang ada.
Sebagai pribadi-pribadi yang utuh dan matang, barangkali masing-masing kita adalah orang yang hebat. Atau bahkan kita merasa paling hebat. Tetapi itu pasti hanya pada satu bagian saja. Sedangkan pada bagian yang lain, tentu saja belum tentu atau bahkan tidak sama sekali. Sehingga bisa jadi kita adalah jawara pada satu bidang atau bagian, tetapi kita menjadi pecundang pada bagian yang lain. Pada bagian yang lain itu ada orang lain yang menjadi jawara.
Ketika para jawara atau orang hebat itu hanya mengandalkan kekuatan dan kelebihannya sendiri-sendiri, maka pada satu kondisi dia tidak akan memberi manfaat sama sekali. Kehebatan dan kejawaraannya baru akan memberikan dampak yang serius ketika ada sinergi dan integrasi dengan kejawaraan orang lain. Sinergi dan integrasi yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah model kejawaraan baru, yaitu kejawaraan kolektif.
Oleh karena itu, ijinkan saya mengajak kepada seluruh pendekar-pendekar KAMMI, khususnya kepada lima pendekar pilihan untuk bersama-sama membangun KAMMI. Karena sesungguhnya Islam mengajarkan kepada kita bahwa " Kebenaran yang tidak terorganisasi (tertata) akan bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi (tertata)".

“Selamat untuk Saudara Rahmantoha Budiarto, ST sebagai Ketua Umum PP KAMMI dan Saudara Fikri Aziz sebagai Sekjend PP KAMMI 2008-2010”

0 komentar: